#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

Minggu, 06 Maret 2016

SISTEM PENCERNAAN LENGKAP

SISTEM PENCERNAAN
(USUS HALUS)

ANATOMI DAN FISIOLOGI USUS HALUS
            Usus halus (intestinum tenue) adalah tabung yang berukuran kira-kira 2,5 meter panjang dalam keadaan hidup. Angka yang biasa di berikan 6 meter adalah penemuan setelah meninggal bila otot telah kehilangan tonusnya. Usus halus memanjang dari lambung sampai katupileo-kaloka,tempat bersambung dengan usus besa. Usus halus terletak di daerah umbilikus dan dikelilingi oleh usus besar.
            Di dalam usus halus inilah proses pencernaan dan absorpsi atau penyerapan zat makanan sebagai besar berlangsung.
            Proses pencernaan karbohidrat di lanjutkan kembali di sini. Pokok dari pencernaan karbohidrat adalah memecah molekul karbohidrat menjadi monosakarida (glukosa,galaktosa,fruktosa) yang bisa di serap usus masuk ke peredaran darah. Tugas ini di laksanakan oleh enzim yang dihasilkan oleh pankreas yaitu alfa amilase, maltase, laktase, sukrase, glukosidase, dan alfa dekstrinase.
            Usus halus di bagi atas tiga bagian, yaitu; usus duabelas jari (duodenum), usus kosong (yeyunum), usus penyerapan (ileum).



Usus Duabelas Jari (Duodenum)
Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda. Pada usus ini bermuara dua saluran, yaitu: saluran getah pankreas dan saluran empedu. Saluran empedu dan saluran pankreas masuk kedalam usus duabelas jari pada suatu lubang yang disebut ampula hepatopankreatika atau ampula vateri. Saluran empedu menghasilkan getah empedu (bilus) yang di hasikan oleh hati. Getah empedu berfungsi untuk mengemulsikan lemak. Pankreas yang terdapat di bawah lambung menghasilkan getah pankreas. Getah pankreas menghasilkan enzim pencernaan seperti:
a.       Amilase, untuk mengubah zat tepung menjadi gula.
b.      Tripsin, untuk ,mengubah protein atau proton menjadi asam amino.
c.       Lipase, untuk mengubah lemak menjadi gliserol dan asam lemak.
Usus Kosong (Yeyunum)
Usus kosong menempati duaperlima sebelah atas dari usus halus yang selebihnya. Pada bagian inilah pencernaan diselesaikan. Pada usus ini juga terjadi pencernaan secara kimiawi. Kelenjar-kelenjar ususnya menghasikan enzim pencernaan seperti yang di hasilkan pankreas.

Usus Penyerapan (Ileum)
Usus penyerapan menempati tigaperlima akhir. Pada bagian ini sari-sari makanan hasil proses pencernaan di serap. Makanan akan di serap oleh jonjot usus. Asam amino dan glukosa, vitamin, garam mineral akan di nangkut oleh kapiler darah, sedang asam lemak dan gliserol akan di angkut oleh pembuluh kil atau pembuluh getah bening usus menuju ke pembuluh balik besar bawah selangka.

Dinding Usus Halus
Dinding usus halus terdiri atas empat lapisan, yaitu:
1.      Dinding lapisan luar, merupakan membran serosa, yaitu lapisan yang membalut usus dengan erat
2.      Dinding lapisan berotot, terdiri atas dua lapisan serabut. Lapisan luar terdiri atas serabut longitudinal, dan di bawah ini ada lapisan tebal terdiri atas serabut longitudinal, dan di bawah ini ada lapisan tebal terdiri atas seraabut sirkuler. Di antaranya kedua lapisan serabut berotot ini terdapat pembuluh darah dan pembuluh limfa.
3.      Dinding submukosa, terdapat antara otot sirkuler dan lapisan yang terdalam yang ,merupakan pembatasnya. Dinding submukosa ini terdiri atas jaringan areolar yang berisi banyak permukaan darah, saluran limfa, dan fleksus saraf yang di sebut fleksus meissner.
4.      Dinding mukosa dalam, disusun berupa kerutan tetap seperti jala, yang memberi kesan anyaman halus. Lapusan ini menambah luasnya permukaan sekresi dan penyerapan.lapisan mukosa ini berisi banyak lipatan Lieberkuhn, merupakan kelenjar sederhana yang di selaputi epitelium silidris.
Getah Usus Halus
Setiap hari disekresikan kira-kira 2000cc getah usus dari sel menuju lumen usus.getah usus halus ini berwarna kuning jernih; pH 7,6 dan mengandung berbagai enzim misalnya peptidase,maltase, sukrase, ribonuklease, dan enterokinase. Sebagian enzim-enzim ini terdapat pada permukaan sel epitel sehingga pencernan makanan berlangsung pada permukaan atau di dalam sel-sel epitel. Sekresi getah usus halus dikontrol oleh refleks saraf otonom, hormonsekreti, dan kolesistokinin,
            Getah usus yang menyempurnakan pencernaan semua makanan seperti;
·           Enterokinase, untuk menggiatkan enzim proteolitik yang berasal dari getah pankreas.
·           Erepsin, untuk menyempurnakan pencernaan protein yang telah di ubah yaitu polipeptida di jadikan sebagai asam amino.
Sedangkan enzim yang bekerja atas karbohidrat, menyempurnakan pencernaan zat tampung dengan mengubah disakarida menjadi monosakarida seperti;
·           Intertase, bekerja atas gula.
·           Laktase, untuk mengubah laktose menjadi glukosa,dan kemudian mengubah galaktosa menjadi glukosa di dalam hati
·           Maltase, mengubah maltosa menjadi dekstosa.
FUNGSI USUS HALUS
Fungsi usus halus adalah mencerna dan menyerap “khime” dari lambung. Isisnya yang cair di gerakkan oleh serangkaian gerakan peristaltik yang cepat. Di samping gerakan peristaltik, ada juga gerakan lain yaitu gerakan segmental, gerakan yang memisahkan beberapa segmen usus satu dari yang lain karena diikat oleh gerakan kontraksi serabut sirkuler dan gerakan ayunan,menyebabkan isi usus bercampurt.
            Dua cairan pencverna masuk ke usus duabelas jari (duodenum) melalui saluran-saluran empedu (melalui hati) dan getah pankreas (dari pankreas). Empedu di gunakan untuk pencernaan lemak yang dipecahkamn dalam bagian-bagian kecil, dengan demikian menjadi kerja lipase. Empedu ini sifatnya alkalis dan membantu makanan yang keluar dari lambung yang asam menjadi netral. Garam empedu mengurangi ketegangan permukaan isi usus dan membantu membentuk emulsi dari lemak yang di makan.

HISTOLOGI USUS HALUS
Pencernaan makanan yang di mulai dalam lambung, di lanjutkan dalam usus halus oleh enzim-enzim yang di hasilkan mukosanya dan di bantu agen pengemulsi dan enzim yang di sekresi ke dalam lumennya oleh hati dan pankreas. Sedikit atau tidak terjadi penyerapan nutrien dalam lambung. Inilah fungsi utama usus halus, yang panjangnya 4-7 m dan di bagi dalam tiga segmen berurutan: duodenum, yeyunum, dan iluem
            Duodenum, dengan panjang sekitar 25 cm, terkait erat pada dinding dorsal abdomen, dan sebagai besar terletak retroperitoneal. Jalannya berbentuk-C, mengitarikepala pankreas dan ujung distalnya menyatu dengan yeyunum, yang terikat pada dinding dorsal rongga melalui mesenterium. Yeyunum dapat di gerakkan bebas pada mesenteriumnya dan merupakan sisa tiga-perlimanya. Kelokan-kelokan yeyunum menepati begian pada pusat abdomen,sedangkan ileum menepati bagian bawah rongga. Terdapat perbedaan kecil dalam histologi mukosa ketiga segmen usus halus itu,namun batas di antara ketiganya tidak jelas. Dan dinding usus halus yang 5-6 m panjang itu,terdiri atas empat lapis konsentris: mukosa, submukosa, dan serosa.

Mukosa Usus
Efisiensi fungsipenyerapan usus halus ditingkatkanoleh sejumlah perubahan yang meningkatkan permukaan total mukosa. Yang paling mencolok di antaranya adalah plika sirkularis (valvula kerkring) yang tampak dangan mata terlanjang sebagai sebagai lipatan-lipatan setengan lingkaran sampai dua pertiga bagian lingkaran lumen.struktur mukosa terdiri atas mukosa dan submukosa. Plika yang lebih besar mempunyai tinggi 8-10 mm, tebal 3-4 mm, dan panjang sampai 5 cm. Mereka tidak terdapat pada bagian awal duodenum dan mulai ada sekitar 5 cm distal daripilorus dan paling banyak pada bagian terminal segmen ini dan bagian pertama yeyunum. Sejak dari situ berangsur berkurang jumlah dan ukurannya, dan jarang di temukan setelah pertengahan ileum.
            Cara kedua perluasan permukaan mukosa yang lebih efektif adalah banyaknya vili intertinalies. Juluran mirip jari dari mukosa ini panjangnya 0,5 sampai 1,5 mm,tergantng derajat kontraksi serat otot polos di dalamnya. Vili menutupi seluruh permukaan dalam usus dan memberinya tampilan beludru khas pada bagian organ segar yang di buka. Jumlahnya bervariasi antara 10 sampai 40 permilimeter proksimal. Pembesaran luas permukaan dapat pula terjadi melalui invaginasi mukosa si antara baaris vili, di sebut kripti Lieberkuhn atau kelenjar intestinal. Kelenjar tubuler ini, panjang 320 sampai 450 m, meluas kebawah ham pir sampai muskularis mukosa. Di antaranya kelenjar intestinal terdapat jaringan ikat lomnggar yang terbentuk lamina propria dari mukosa usus.


Sel-Sel Absorptif
Permukaan mukosa di lapisi epitel selapis kolumnar dengan tiga jenis sel; sel absorptif, sel goblet, dan sel enteroendokrin. Sel absorptif (enterosit) adalah kolumnar, tinggi 20-26 m dengan inti yang memanjang ventrikel di pusat. Permukaan lumen memiliki brush border (striated border) mencolok, di bawahnya terdapat zona bening tanpa organel namun mengandung terminal  web nyatan, yaitu lapis pilamen halus terorientasi transversal yang menunjukkan birefrinngensi di bawah mikroskop polarisasi. Ia dapat di pulas secara selektif dengan cara asam tanat, asam fosfomolibdad, dan pewarna albino hitam.

Sel Goblet

Sel goblet adalah kelenjar unisel penggetah mukus yang tersebar di antara sel-sel absorptifdari epitel usus. Namanya menggambarkan bentuk sel itu pada sediaan histologi rutin sitoplasma apeksnya yang berbentu mangkok melebar disebut teka di penuhi sekret,dan dasarnya yang sempit menjulur ke bawah kelamina basal. Permukaan lumen sel memiliki sedikit mikrovili di tepinya, namun licin dan cembung di atas granul-granul sekresi. Sel-sel goblet melekat erat pada sel-sel absorptif di sebelahnya melalui kompleks tautan dan mungkin terdapat sedikit interdigitasi dangkal pada pe\rmukaan lateralnya yang biasanya
Sel goblet memiliki sitoskelet yang berekembang biak filamen-filamen intermediat banyak terdapat di teka. Sebuah lapisan mirip keranjang dikelilingi berkas-berkas filamen melingkar, tersusun mirip lingkaran gentong sekitar massa geranul sekresi. Mukus adalah cairan kental atau jel encer terdiri atas makro molekul glikoprotein, dengan ukuran antara 250.000 smapai 2x106  dalton.
Sel enteroendokrin
Dalam 1870, heidenhain melukiskan sel-sel kecil dekat dasar epitel usus yang memiliki reaksi pemulasan mirip dengan pada sel-sel kromafin medula adrenal. Mereka ini di sebut sel-sel enterokromafil letaknya. Pada dasar epitel dan adanya granul sekresi di dasar sel memberi kesan bahwa mereka adalah sel-sel endrokrin yang mencurahkan sekretnya ke dalam lamina propria dan tidak kedalam lumen usus. Selain kesanggupannya mengikat mikromat alkalis ( kromafinitas), sebagian sel ini juga mengendapkan garam perak dengan tiadanya agen reduksi (argentafinitas) dan disebut sel-sel argentafin. Saat itu diketahui bahwa bila sediaan diolah dulu dengan agen reduksi sebelum diberi perak nitrat, dapat diperlihatkan lebih banyak sel-sel granular basal. Sel-sel yang dapat dipulas dengan cara ini disebut sel argirofilik. Perbedaan jumlah argirofilik dan sel argentafin dan kenyataan bahwa sebagian dari sel-sel bergranul ini menunjukkan fluoresensi  dalam sinal ultraviolet sedangkan yamng lain tidak, mengahasilkan kesimpulan bahwa tidak semua sel enteroendkrin adalah sama
Mereka terdapat berupa sel-sel yang tersebar luas dan karnanya merupakan unsur minor dario epitel, namun jumlahnya dalam usus manusia diperkirakan sekitar 3x109. Ada kesamaan beberapa ciri morfologik. Bentuknya sangat bervariasi. Yang terdapat dalam kriptus cenderung berbentuk lonjong atau piramidal, sedangakn yang ada divili hampir kolumnar. Bagian terbesar badan sel hampir selalu berada pada belahan bawah epitel, namun bagian apikal yang sempit umumnya terjulur ke lumen dan memiliki brushborder. Intinya bulat dan pada umumnya mengandung sedikit heterokromatin. Sitoplasmanya lebih pucat dari pada yang pada enterosit sekitar.
Sel paneth
Sel paneth tidak ikut serta bermigrasi ke atas. Mereka tetapdi dasar kriptus . bentuknya piramidal dengan inti bulat atau lonjong dekat dasarnya. Sel paneth memiliki struktur halus yang  khas untuk sel yang secara aktif mensintesis protein. Sel paneth sebenarnya terus bersekresi, namun kecepatan sekresi ini dipercepat oleh makanan. Meskipun telah puluhan tahun diteliti, peran fungsional sel paneth belum juga diketahui. Penelitian tentang sifat kimiawi produk sekresinya mengalami hambatan oleh sulitnya mendapatkan sekret itu tanpa terkena kontaminasi oleh produk jenis sel lain dalam kriptus itu. Kajian secara imunositokimia telah dapat menetapakan adanya lisozim dalam sistem fagolisosomnya yang mencolok. Lisozim adalah sebuah protein bermuatan kation tinggi yang sanggup mencerna dinding bakteri tertentu. Sel-sel paneth banyal terdapat dalam usus manusia tikus, mencit, marmot, dan hewan pemamah biak, namun dilaporkan tidak ada pada anjing, kucing, babi, dan “raccoon” (binatang sejenis kucing).

Lamina propria
Lamina propria adalah jaringan ikat longgar yang mengisi celah-celah di antara kripti lieberkuhn dan bagian tengah vili intestinal. Ia terdiri atas sel-sel tetap dan sel-sel embara dalam anyaman serat-serat retikular dan elastis dan mengandung banyak kapiler dibawah apitel. Agen utama motilitas vili adalah berkas sangat halus otot polos yang meluas vertikal dari muskularis mukosa kedalam bagian tengah vilus, disini mereka berjalan pararel terhadap lakteal sentra, sebuah pembuluh limf halus yang berakhir buntu dekat puncak setiap vilus
Dapat dibedakan dua jenis sel mast dalam mukosa usus; sel mast biasa seperti pada jaringan ikat di seluruh tubuh dan sel mast atipik (sel mast mukosa) yang penyebarannya terbatas
Sel bebas lamino propria yang paling banyak adalah limfosit yang merupakan cadangan siap pakai sel-sel imunokopeten. Lebih dari 95% limfosit terletak di lapisan epitelium mketiga basal dan sebagian mereka adalah limfosit T sitotoksin. Fungsinya disana tidak jelas.
Muskulari mukosa
            Tebal rata-rata muskularis mukosa adalah 38mm dan terdiri atas lapis otot polos dalam dan luar yang tipis bersama anyaman serat elastin.kontraksinya meninggikan lipatan mukosa. Pada tersediaan terfiksasi, ia biasanya mengkerut, sehingga ketikteraturan lumen tanpak agak berlebihan. Mungkin perrubahan dalam topografi permukaan mukosa demikian ikut berperan dalam mencampur isi usus.
Submukosa

 Submukosa terdiri atas jaringan ikat agak padat yang kaya serat elastin. mungkin juga terdapat kelompok kecil sel.
a.       Kelenjar submukosa (kelenjar brunner)
Pada pylorus lambung mamalia,terdapat [eralihan mendadak dari kelenjar pylorus menjadi kelenjar brunner, yang merukan ciri histologi bagian awal duodenum. Fungsi kelenjar brunner mensintesis dan menggetahkan sebuah polipeptida berberat molekul rendah yang semula disebut urogastron saat pertama kali di temukan dalam urin manusia dan kemudian ternyata merangsang pembelahan sel dan menghambat sekresi asam lambung.
Muskularis
            Lapis muskular usus halus terdiri atas otot polos memanjang luar dan melingkar dalam, namun sedikit berkas serat otot polos saling menilang antar lapis. Di antara kedua lapis ini terdapat pleksus saraf mienterikus yang simpatis. Muskularis berfungsi untuk peristalsis, yaitu mirirp gelombang yang menjalari usus dengan kecepatan berberapa cm/detik dan mendorong isi lumen ke depan. Gelombang untuk peristaltic ini berjalan jarak pendek , kemudian menghiang, diikuti beberapa menit kemudian olehgelombang berikutnya.
Serosa
            Lapisan paling luar dari usus, terdiri atas lembaran utuh sel-sel gepeng, yaitu mesetol, dipisahkan dari mukularis di bawahnya oleh lapis sangat tipis jaringan ikat longgar. Sebagian besar saluran cerna digantung pada dinding dorsal abdomen pada mesenterium, sebuah lembaran mesotel berlapis ganda tipis yang mengandung pembuluh darah untuk usus.
Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan (Sabiston,1995):
1.      Tunica  Serosa.  Tunica  serosa  atau  lapisan  peritoneum,  tak  lengkap  di  atas duodenum, hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica, kekecualian pada 5 sebagian  kecil,  tempat  lembaran  visera  dan  mesenterica  peritoneum  bersatu pada tepi usus.
2.      Tunica Muscularis.Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis  usus  halus.  Ia  paling  tebal  di  dalam  duodenum  dan  berkurang tebalnya  ke  arah  distal.  Lapisan  luarnya  stratum  longitudinale dan  lapisan dalamnya  stratum  circulare.  Yang  terakhir  membentuk  massa  dinding  usus. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot.
3.      Tela Submucosa.Tela submucosa terdiri dari dari jaringan ikat longgar yang terletak  diantara  tunica  muskularis  dan  lapisan  tipis  lamina  muskularis mukosa, yang terletak di bawah mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe. Di sampingitu, di sini ditemukan neuroplexus meissner.
4.      Tunica Mucosa.Tunica mucosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun  dalam  lipatan  sirkular  tumpang  tindih  yang berinterdigitasi  secara transversa. Masing-masing lipatan ini ditutup dengan tonjolan, villi..Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:
1.      Lapisan  mukosa  dan  submukosa  membentuk  lipatan-lipatan  sirkular  yang dinamakan  valvula  koniventes  (lipatan  kerckringi)  yang  menonjol  ke  dalam lumen sekitar 3 ampai 10 mm. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat pertengahan ileum. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram
2.      Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5 sampai  1  mm  (dapat  dilihat  dengan  mata  telanjang)  dan  menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru.
3.      Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 µ pada  permukaan  luar  setiap  villus.  Mikrovilli  terlihat  dengan  mikroskop elektron dan tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya. Bila  lapisan  permukaan  usus  halus  ini  rata,  maka  luas  permukaannya hanyalah sekitar 2.00 cm². Valvula koniventes, vilidan mikrovili bersama-sama menambah luas permukaan absorpsi sampai 2 juta cm²,yaitu menigkat seribu kali lipat (Price & Wilson, 1994).
            SUPLAI VASKULER
Pada usus halus, arteri mesentericus superior dicabangkan dari aorta tepat di  bawah   arteri  seliaka.  Arteri  ini  mendarahi  seluruh  usus  halus  kecuali duodenum  yang  sebagian  atas  duodenum  adalah  arteri  pancreotico  duodenalis superior,  suatu  cabang  arteri  gastroduoodenalis.  Sedangkan  separoh  bawah duodenum  diperdarahi  oleh  arteri  pancreoticoduodenalis  inferior,  suatu  cabang arteri  mesenterica  superior.  Pembuluh-pembuluh  darah  yang  memperdarahi jejenum  dan  ileum  ini  beranastomosis  satu  sama  lain untuk  membentuk serangkaian  arkade.  Bagian  ileum  yang  terbawah  juga diperdarahi  oleh  arteri ileocolica. Darah dikembalikan lewat vena messentericus superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta (Price & Wilson, 1994: Snell, 1997)
Pada usus besar, arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (sekum, kolon ascendens, dan dua pertiga proksimal kolon transversum) : (1)  ileokolika,  (2)  kolika  dekstra,  (3)  kolika  media,  dan  arteria  mesenterika inferior  memperdarahi  bagian  kiri  (sepertiga  distal kolon  transversum,  kolon descendens dan sigmoid, dan bagian proksimal rektum) : (1) kolika sinistra, (2) sigmoidalis, (3) rektalis superior (Price & Wilson,1994; Schwartz, 2000).


DRAINASE PEMBULUH LIMFE
Pembuluh limfe duodenum mengikuti arteri dan mengalirkan cairan limfe ke  atas  melalui  nodi  lymphatici  pancreoticoduodenalis  ke  nodi  lymphatici gastroduodenalis  dan  kemudian  ke  nodi  lymphatici  coeliacus:  dan  ke  bawah, melalui  nodi  lymphatici  pancreoticoduodenalis  ke  nodi  lyphatici  mesentericus superior sekitar pangkal arteri mesenterica superior (Snell, 1997)
Pembuluh  limfe  jejenum  dan  ileum  berjalan  melalui  banyak  nodi lymphatici  mesentericus  dan  akhirnya  mencapai  nodi  lymphatici  mesentericus suprior, yang terletak sekitar pangkal arteri mesentericus superior (Snell, 1997). Pembuluh  limfe  sekum  berjalan  melewati  banyak  nodi  lymphatici mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici msentericus superior (Snell, 1997)
Pembuluh  limfe  untuk  kolon  mengalirkan  cairan  limfe ke  kelenjar  limfe yang terletak di sepanjang perjalanan arteri vena kolika. Untuk kolon ascendens dan  dua  pertiga  dari  kolon  transversum  cairan  limfenya  akan  masuk  ke  nodi limphatici  mesentericus  superior,  sedangkan  yang  berasal  dari  sepertiga  distal kolon  transversum  dan  kolon  descendens  akan  masuk  ke  nodi  limphatici mesentericus inferior (Snell, 1997).

PERSARAFAN USUS
Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari  pleksus  mesentericus  superior  dan  pleksus  coeliacus.  Sedangkan  saraf  untuk jejenum dan ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus mesentericus superior (Snell, 1997). Rangsangan parasimpatis merangasang aktivitas  sekresi  dan  pergerakan,  sedangkan  rangsangan  simpatis  menghambat pergerakan  usus.  Serabut-serabut  sensorik  sistem  simpatis  menghantarkan  nyeri, sedangkan  serabut-serabut  parasimpatis  mengatur  refleks  usus.  Suplai  saraf intrinsik,  yang  menimbulkan  fungsi  motorik,  berjalan  melalui  pleksus  Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis, dan pleksusMeissner di lapisan submukosa (Price & Wilson, 1994)



DIGESTI DAN ABSORSI DI USUS HALUS
1.      Digesti oleh enzim usus.enzim-enzim usus di lengkapi proses pencernaan kimus sehingga produk tersebut dapat langsung dan dengan mudah terserap. Enzim-enzim usu dan cara kerjanya antara lain
a.       Enterokinase mengaktivasi tripsinogen pangkreas menjadi tripsin. Yang kemudian mengurai protein dan peptide menjadi peptide yang lebih kecil
b.      Aminopeptidase terrapeptidase, tripeptidase dan dipeptidase mengurai peptide menjadi asam amino bebas.
c.       Amilase usus menghrolisis zat tepung menjadi disakarida(maltose,sukrosa dan laktosa)
d.      Maltase, isomaltase, dan sukresa memecah disakarida maltose, laktosa, dan sukrosa, menjadi monosakarida (gula sederhana)
e.       Lipase usus memecah monogliserida menjadi asam lemak dan gliserol.
2.      Jalur absobtif. Produk-produk digesti (monosakarida, asam amino, asam lemak, dan gliserol) juga air dan elektrolit, vitamin dan cairan pencernaan di absorsi menembus membrane sel epitel duodenum dan yeyunum. Hanya sedikit absorsi yang berlangsung dalam ileum kecuali untuk garam-garam empedu dan vitamin b12.
3.      Mekanisme transport absorsi meliputi difusi, difusi terfasilitasi, transport aktif dan pinositosis.mekanisme pertama adalah transport akti. Zat-zat yang di transfor dari usu ke darah atau limfe harus menembus sel-sel dan cairan intraseluler berikut.
a.       Membran plasma sel epithelial kolumnar, pada virus, sitoplasmanya, dan membrane dasarnya.
b.      Jaringan ikat di antara sel epitel dan kapiler atau lacteal dalam virus.
c.       Dinding kapilar atau lacteal yang terletak dalam inti virus.
4.      Absorsi karbohidrat setiap gula sederhana di percaya memiliki mekanisme transpornya sendiri. Gula bergerak dari usu ke jarring-jaring kepilar virusdan di bawa menuju hati oleh vena portal hepatica.
a.       Absorsi glukosa terjadi bersamaan dengan transport aktif ion natrium (ko-transpor) fruktosa. Ditranspor melalui difusi terfasilitasi yang diparantarai cerrierc. Monosakarida lain dapat diabsorsi melalui difusi sederhana.
5.      Absorsi protein transport aktif asam amino kedalam sel-sel usus juga berlangsung bersamaan dengan transport aktif natrium, dengan system carrier yang terpisah untuk asam amino berbeda. Dari kapilar vilus,asam amino di bawa ke hati.
6.      Absorsi lemak asam lemak larut lipid dan gliserol di absorsi dalam bentuk micelle, yaitu suatu globussfirikal garam empedu yang mengelilingi bagian berlemak. Micelle membawa asam lemak dan monoglikosakarida menuju sel epithelial, tempatnya di lepas dan diabsorsinya melalui difusi pasif menuju membrane sel usus.
a.       Asam lemak berantai karbon pendek (kurang dari 10-12 atom karbon) merupakan molekul kecil yang bergerak ke dalam kapilar vilus bersama asam amino dan monosakarida.
b.      Asam lemak berantai karbon paling panjang mencapai 90% lebih dari asam lemak yang ada) dan molekul gliserol bergerak ke reticulum endoplasma, kemudian di sentesis ulang menjadi trigliserida, berikatan dengan lipoprotein fosfolipid, dan kolesterol, serta terbebas sebagai kilomikron dari tepi lateral sel usus.
c.       Kilomikron menembus lacteal sentral vilus menuju system limfatik dan sirkulasi sistemik, sebelumnya melintasi (bypassing) hati.
7.      Absorsi air, elektrolit, dan vitamin
a.       Hanya 0.5 L dari 5 L sampai 10L cairan yang ada di usus halus yang mencapai usus besar. Air di absorsi secara pasif melalui hokum osmosis setelah absorsi elektrolit dan makanan tercerna.
b.      Ion dan renik di absorsi melalui difusi atau transof aktif.
1.      Absorsi kalsium bervariasi sesuai dengan asupan makanan. Kadar plasma, dan kebutuhan tubuh serta diatur oleh hormone paratiroid dan ingesti vitamin D.
2.      Absorsi zat besi dibutuhkan sesuai dengan metabolic . zat besi terikat pada globilin (transferrin) dalam darah dan tersimpan pada tubuh dalam bentuk  ferritin yang akan di lepas jika di butuhkan.
3.      Vitamin larut air (C dan B) di absorsi melalui difusi. Vitamin larut lemak ( A D E K) di absorsi bersama lemak. Absorsi vitamin b12 tergantung pada factor intrinsic lambung dan berlangsung di ileum
DAFTAR DIAGNOSA
PHYSIOLOGICAL DOMAIN
Anatomical structures and  physiological processes essential to human health
Class: Respiration
Anatomical structures and physiological processes involved in ventilation and gas exchange
Nursing Diagnosis Code
Ineffective breathing pattern
00032
Class: Physical Regulation
Anatomical structures and physiological processes involved in hematological, immunological, and metabolic regulatory mechanisms
Nursing Diagnosis Code
Hyperthermia
00007
Excess fluid volume
00026
Risk for imbalanced fluid volume
00025
Deficient fluid volume
00027
Risk for hyperthermia
00253
Risk for electrolyte imbalance
00195
Risk for unstable blood glucose level 
00179
Risk for impaired liver function
00178
Class: Nutrition
Anatomical structures and physiological processes involved in the ingestion, digestion, and absorption of nutrients
Nursing Diagnosis Code
Imbalance nutrition less than body requirements
00002
Class: Elimination
Anatomical structures and physiological processes involved in discharge of body waste
Nursing Diagnosis Code
Constipation
00011
Diarrhea
00013
Risk for ineffective gastrointestinal perfusion
00202
Risk for constipation
00015
Class: Skin or tissue
Anatomical structures and physiological processes of skin and body tissues involved in structural integrity
Nursing Diagnosis Code
Risk of impaired tissue integrity
00248
Impaired tissue integrity
00044


MENTAL DOMAIN
Mental processes and mental patterns essential to human health
Class: Self-Concept
Psychological patterns involved in self-perception, identity, and self-regulation
Nursing Diagnosis Code
Disturbed body image
00118

EXISTENTIAL DOMAIN
Experiences and life perceptions essential to human health
Class: Comfort
Perceptions of symptoms and experience of suffering
Nursing Diagnosis Code
Anxiety
00146
Acute pain 
00132
Nausea
00134
Chronic pain
00133
Fear
00148

Class: Coping
Perception of coping, coping experiences, and coping strategies
Nursing Diagnosis Code
Ineffective coping
00069

FUNTIONAL DOMAIN
Life-span processes, basic functions, and skills essential to human health
Class: Energy Balance
Energy usage and energy regulation pattern
Nursing Diagnosis Code
Fatigue
00093
Insomnia
00095
Activity intolerance
00092
Risk of activity intolerance
00094
Class: Health Promotion
Health literacy and health maintenance skills
Nursing Diagnosis Code
Deficient knowledge
000126

SAFETY DOMAIN
The characteristies of risk behavior, health hazards, and milieu hazards essential to human health
Class: Health Hazard
Health hazards associated with healthcare processes and social processes
Nursing Diagnosis Code
Risk of infection
 00004

DAFTAR PUSTAKA

Sloana,ethel:
anatomi dan fisiologi untuk pemula // ethel Sloana ; alihbahasa, james veldman editor edisi bahasa indonesia, palupi widyastuti. – Jakarta : EGC, 2003
price,sylvia anderson
patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit / sylvia anderson price,lorraine McCarty wilson ; alihbahasa, Brahm U. Pendit ...[et.al.]   ; editornedisi bahasa indonesia, huriawati hartanto ...[et.al.]. – Ed.6 – jakarta : EGC 2005.
Fawcett, Don  W.
      Buku ajar histolologi / Don  W. Fawcett Fawcett ; alihbahasa,jan tambayong .
Bloom & Fawcett, 2002, Histologi, Jakarta, EGC
Wiley Blackwell, 2014, Nursing Diagnosis Definition and Classification 2015-2017,  Oxford

Tidak ada komentar:

Posting Komentar